KUPANG, KOMPAS.com — Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya mengusulkan supaya nama Bandara Waioti di Maumere, Sikka, Flores, diganti menjadi Bandara Frans Seda.
"Usulan itu sudah disampaikan kepada beberapa pihak di Jakarta, tetapi belum semuanya menerima," kata Gubernur Frans Lebu Raya, melalui telepon genggam dari Jakarta, Senin (4/1/2010).
"Saya sudah mendiskusikan dengan beberapa pihak, terutama orang NTT yang ada di Jakarta. Tetapi belum semuanya setuju untuk mengganti nama Bandara Waioti menjadi Frans Seda," katanya.
Menurut dia, pengabadian nama Frans Seda untuk nama bandara di NTT mungkin dinilai terlalu kecil. Namun sebagai orang NTT, almarhum bagaimanapun perlu dikenang sebagai figur yang sangat berjasa dalam pembangunan di NTT.
Karena itu, diskusi ini akan terus dilakukan. Jika ada kesepakatan bersama, maka pemerintah NTT akan mengumumkan kepada publik pada upacara misa arwah yang akan digelar di Kupang, Selasa (6/1/2010).
Almarhum Frans Seda, kata Lebu Raya, sangat berjasa bagi bangsa ini, terutama dalam pembangunan perhubungan di kawasan timur Indonesia, termasuk NTT.
Ketika menjabat sebagai Menteri Perhubungan, kontribusi almarhum di bidang perhubungan laut dan udara sangat besar dalam membuka isolasi wilayah di provinsi kepulauan itu. Sejumlah kapal perintis dioperasikan di NTT untuk meretas isolasi wilayah, dan penerbangan perintis oleh pesawat Merpati Nusantara Airlines ke sejumlah daerah di NTT. "Semua ini berkat campur tangan Frans Seda," katanya.
Karena itu, menurut dia, tidak salah jika masyarakat NTT mengubah nama bandara di kampung halamannya itu untuk mengenang jasa-jasa almarhum yang semasa hidupnya telah mengadikan diri bagi bangsa ini.
Namun, semua itu sangat bergantung pada kesepakatan semua pihak. "Mungkin saja ada hal lain yang diusulkan sebagai bukti untuk mengenang almarhum sepajang masa. Kami membuka diri untuk menerima masukan," paparnya.